Klasifikasi Sengon (Albizia chinensis)

  • Kingdom 
    Plantae 
  • Subkingdom 
    Tracheobionta 
  • Superdivisi 
    Spermatophyta 
  • Divisi 
    Magnoliophyta 
  • Kelas 
    Magnoliopsida 
  • Subkelas 
    Rosidae 
  • Ordo 
    Fabales 
  • Famili 
    Fabaceae 
  • Genus 
    Albizia 
  • Spesies 
    Albizia chinensis (Osbeck) Merr.
Morfologi Sengon (Albizia chinensis)
Batang : Kulitnya licin, berwarna abu-abu atau kehijau-hijauan. Pohon ini biasanya berukuran lumayan besar dan tinggi total mencapai 40 meter dan tinggi bebas cabang 20 meter. Sengon yang berusia tua diameternya mencapai 1 meter, bahkan bisa lebih. Pada umumnya, batangnya tidak berbanir, tumbuh lurus, dan bentuknya silindris. Tajuknya melebar dan mendatar. Apabila tanaman ini tumbuh di lokasi terbuka kanopinya akan berbentuk kubah atau payung.
Daun : Kumpulan daunnya tersusun majemuk, menyirip ganda, dan panjang sekitar 23–30 cm. Anak daunnya kecil, banyak, berpasangan, dan terdiri dari 15–20 pasang di setiap tangkai (sumbu). Bentuknya lonjong, dan pendek ke arah ujung. Bagian atas daun, permukaannya berwarna hijau pupus dan tidak berbulu. Pada bagian bawah warnanya lebih pucat dan terdapat rambut-rambut halus.
Bunga : Bunga pohon sengon tersusun dalam malai, panjangnya 12 mm, warna putih kekuningan dan sedikit berbulu. Bentuknya menyerupai saluran atau lonceng. Bunga tanaman ini mempunyai dua kelamin, panjangnya 10–15 cm, letaknya di aksiler (ketiak).
Buah : Buah sengon berbentuk polong, pipih, tipis, tidak bersayap, tidak mempunyai sekat dan panjangnya 10–13 cm dan lebar 2 cm. Di setiap buah polong berisi 15–20 biji. Pada usia muda, buah berwarna hijau, dan akan berubah menjadi kuning sampai coklat kehitaman ketika usia tua. Apabila buah sudah masak, bijinya akan terlepas secara alamiah.
Distribusi : Daerah yang beriklim tropis, seperti India, Vietnam, Thailand, Kamboja, Burma, Laos, Cina dan juga Indonesia. Lalu tanaman ini juga tersebar sampai di Australia.
Habitat : Hutan dataran rendah, sabana, pinggiran sungai
Referensi
1. Plantamor. (n.d.) Albizia chinensis species profile. Available at: https://plantamor.com/species/profile/albizia/chinensis#google_vignette&gsc.tab=0
2. LindungiHutan. (n.d.) Mengenal pohon Sengon: si cepat tumbuh yang serbaguna. Available at: https://lindungihutan.com/blog/pohon-sengon/

Klasifikasi Jati Putih (Gmelina arborea)

  • Kingdom 
    Plantae 
  • Subkingdom 
    Tracheobionta 
  • Superdivisi 
    Spermatophyta 
  • Divisi 
    Streptophyta 
  • Kelas 
    Equisetopsida 
  • Subkelas 
    Magnoliidae 
  • Ordo 
    Lamiales 
  • Famili 
    Lamiaceae 
  • Genus 
    Gmelina 
  • Spesies
    Gmelina arborea Roxb. ex Sm.
Klasifikasi Jati Putih (Gmelina arborea)
Batang : Pohon ukuran sedang, tinggi dapat mencapai lebih(30 - 40) m, batang silindris, diameter rata-rata 50cm kadang-kadang mencapai 140 cm. Kulit halus atau bersisik, warna coklat muda sampai abu-abu.
Daun : Daun bersilang, ber-gerigi atau bercuping, berbentuk jantung, ukuran10-25 cm x 5-18 cm. 
Bunga : Bunganya berbentuk lonceng (tubular), berwarna kuning terang dengan bercak oranye atau coklat kemerahan di bagian dalam, dan biasanya muncul dalam tandan. Bunga sempurna, panjang mencapai lebih 25 mm, berbentuk tabung dengan5 helai mahkota.
Buah : berdaging, panjang 20-35 mm, kulit meng-kilat, mesokarp lunak, agak manis.
Distribusi : Menyebar alami di Nepal, Indonesia, India, Pakistan, Bang-ladesh, Sri Lanka, Myanmar, Thailand, Laos,Kamboja, Vietnam dan Cina Selatan.
Habitat : hutan gugur tropis, hutan dataran rendah, dan hutan sekunder terbuka.
Referensi
1. Lauridsen, E.B. 1986 . Seed leaflet No 6. June 1986. Gmelina arborea, Linn. Danida Forest Seed Centre-Humlebaek, Denmark.
2. Plantamor. (n.d.) Gmelina arborea species profile. Available at: https://plantamor.com/species/profile/gmelina/arborea#google_vignette&gsc.tab=0

Klasifikasi sungkai (Peronema canescens)

  • Kingdom 
    Plantae 
  • Subkingdom 
    Tracheobionta 
  • Superdivisi 
    Spermatophyta 
  • Divisi 
    Streptophyta 
  • Kelas 
    Equisetopsida 
  • Subkelas 
    Magnoliidae 
  • Ordo 
    Lamiales 
  • Famili 
    Lamiaceae 
  • Genus 
    Peronema 
  • Spesies 
    Peronema canescens Jack
Morfologi Sungkai (Peronema canescens)
Batang : Permukaan batang kasar sampai sangat kasar dengan kebiasaan tumbuh tegak (erectus) dan bentuk tajuk oval. Sungkai memiliki bentuk lurus dengan lekuk kecil. Kulit berwarna abu-abu beralur dangkal, mengelupas kecilkecil. Penampang kulit luar bewarna coklat dan kayunya berteras dengan warna sawo muda menyerupai kayu jati, serta rantingnya penuh dengan bulu-bulu halus.
Daun : Daun sungkai termasuk daun majemuk tunggal dengan letak berhadapan bersilangan, daun berwarna ungu-hijau saat muda dan menjadi hijau tua saat sudah dewasa. Daun berbentuk lanset (lanceolatus) dengan ujung daun meruncing (acuminatus) dan pangkal daun runcing (acutus) dengan tulang daun tidak menonjol. Bagian tepi daun rata (integer) dan ditemukan bergerigi (serratus) dengan permukaan daun licin.

Bunga : Bunga berupa malai. Kelopak bunga berjumlah 5, agak tertutup rapat, berlekatan dengan buah, berbulu.
Buah : tunggal, merupakan batu beruang empat, berbiji, kering, bulat, kecil berdiameter 3-3,5 mm, berbiji banyak, berwarna putih kekuningan, letaknya tersebar, kulit buah berbulu seperti beludru.
Distribusi : Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, dan seluruh Kalimantan.
Habitat : hutan sekunder, bekas daerah tebangan, tepi sungai dengan daerah yang tidak tergenang, tepi jalan dan lahan terbuka.
Referensi
1. Plantamor. (n.d.) Peronema canescens species profile. Available at: https://plantamor.com/species/profile/peronema/canescens#google_vignette
2.  Sari GS dan Aulya Dea. 2022. Morfologi batang dan daun sungkai (Peronema canescens) pada lingkungan tumbuh yang berbeda. Seminar Nasional Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat.
3. Socfindo Conservation. (n.d.) Peronema canescens. Available at: https://www.socfindoconservation.co.id/plant/717

Klasifikasi Pericopsis mooniana
  • Kingdom 
    Plantae 
  • Subkingdom 
    Tracheobionta 
  • Superdivisi 
    Spermatophyta 
  • Divisi 
    Magnoliophyta 
  • Kelas 
    Magnoliopsida 
  • Subkelas 
    Rosidae 
  • Ordo 
    Fabales 
  • Famili 
    Fabaceae 
  • Genus 
    Pericopsis 
  • Spesies 
    Pericopsis mooniana
    (Thwaites) Thwaites
Morfologi Pericopsis mooniana
Batang : Pohon berukuran sedang, tinggi dapat mencapai 40 m dengan tinggi bebas cabang hingga 20 m, diameter mencapai 80-100 cm. Batang utama umumnya lurus, beralur dangkal dan berlekuk di bagian pangkal. Kulit batang tipis dan halus berwama kemerahan.
Daun : Daun bersilang berhadapan, menyirip tidak berpasangan,dalam satu tangkai terdapat 5-8 helaian daun, berbentuk bulat telur dengan ukuran 4- 9 cmx2,5-5 cm, membulat pada pangkalnya dan meruncing pada ujungnya, dan tidak berbulu.
Bunga : Bunga majemuk berbentuk tandan dengan tangkai kecil, panjang sekitar 2 cm dan kelopak bunga berbentuk lonceng dengan panjang sekitar 15 mm. Mahkota bunga berbentuk kupu-kupu berwarna ungu tua.
Distribusi : Sri Lanka (Asia Selatan), Malaysia, Indonesia, Philipina, Myanmar (Asia Tenggara), Papua New Guinea (Oceania) hingga ke Afrika.
Habitat : Hutan sekunder, hutan primer dan dataran rendah
Referensi
1. Plantamor. (n.d.) Pericopsis mooniana species profile. Available at: https://plantamor.com/species/profile/pericopsis/mooniana#gsc.tab=0

Klasifikasi Ketapang Kencana (Terminalia mantally)

  • Kingdom 
    Plantae 
  • Subkingdom 
    Tracheobionta 
  • Superdivisi 
    Spermatophyta 
  • Divisi 
    Magnoliophyta 
  • Kelas 
    Magnoliopsida 
  • Subkelas 
    Rosidae 
  • Ordo 
    Myrtales 
  • Famili 
    Combretaceae 
  • Genus 
    Terminalia 
  • Spesies 
    Terminalia mantaly H.Perrier
Morfologi Ketapang Kencana (Terminalia mantaly)
Batang : Bercak-bercak abu-abu pucat, garis-garis atau bintik-bintik kecoklatan yang menonjol.
Daun : . Daun kecil (panjang 2-5cm x lebar 1cm), berbintik abu-abu kehijauan dengan tepi putih krem ​​tidak beraturan, daun muda merah muda kemerahan, tepi tidak rata hingga bergerigi, tumbuh dalam lingkaran di ujung cabang. Daun bergerombol seperti membentuk payung sehingga bisa melindungi tanaman yang ada dibawahnya.
Bunga : bunga bisexual bewarna kehijauan
Buah : buah kecil, hijau saat belum matang, dan tidak memiliki sayap.
Distribusi : Madagaskar, Asia Tenggara, dan Australia.
Habitat : Hutan dataran rendah
Referensi
1. National Parks Board (NParks). (n.d.). Terminalia mantaly H. Perrier. Flora & Fauna Web. Retrieved from https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/2/7/2762

Klasifikasi Jati (Tectona grandis)

  • Kingdom 
    Plantae 
  • Subkingdom 
    Tracheobionta 
  • Superdivisi 
    Spermatophyta 
  • Divisi 
    Streptophyta 
  • Kelas 
    Equisetopsida 
  • Subkelas 
    Magnoliidae 
  • Ordo 
    Lamiales 
  • Famili 
    Lamiaceae 
  • Genus 
    Tectona 
  • Spesies 
    Tectona grandis L.f.
Morfologi Jati (Tectona grandis)
Batang : Batang jati berbentuk silinder dan kulitnya berwarna coklat, abu-abu, kehitaman dengan kayu yang berwarna coklat, coklat muda dan coklat kekuningan. Kulit jati memiliki tekstur yang kasar dan bermotif garis lurus, garis lingkar dan garis lengkung. Tekstur pecah-pecah menurut alur memanjang. mencapai 40 meter hingga 45 meter, serta tinggi bebas cabang sekitar 20 meter hingga 25 meter.Buah jati berbentuk bulat agak gepeng, 0,5-2,5 cm, berambut kasar dengan inti tebal. Buah jati sangat keras, terbungkus kulit berdaging dan lunak tidak merata (tipe buah batu).
Daun : Daun jati memiliki bentuk seperti bulat telur terbalik dan menempel pada batang secara berpasangan. Permukaannya ditumbuhi bulu halus pada sisi atas serta bawah. Daun jati umumnya berukuran besar, letaknya berhadapan, berbentuk elips, bulat telur terbalik dan dengan tangkai yang sangat pendek. Pada musim kemarau, daun pohon jati akan menggugurkan daunnya atau bersifat meranggas. Tujuannya yaitu untuk beradaptasi pada kondisi cuaca yang kering dan air hujan yang berkurang.
Bunga : Bunga jati berkelamin ganda dari benang sari dan putik yang bertangkai dalam tandan besar. Bunga jati merupakan bioseksual dan berwarna keputih-putihan dan krem. Bunga majemuk terletak dalam malai besar, 40×40 cm atau lebih besar, berisi ratusan kuntum bunga tersusun dalam anak paying yang menggarpu. Bunga terletak di ujung ranting jauh di puncak tajuk pohon. Taju mahkota 6-7 buah, berdiameter 6-8 mm. berumah satu (Handayani, 2014)
Buah : Buah jati berbentuk bulat agak gepeng, 0,5-2,5 cm, berambut kasar dengan inti tebal. Buah jati sangat keras, terbungkus kulit berdaging dan lunak tidak merata (tipe buah batu).
Distribusi : Jati tersebar di hutan-hutan gugur mulai dari India, Indonesia, Myanmar, Laos, Kamboja, Thailand, Indochina hingga ke Jawa.
Habitat : hutan hujan tropis pertumbuhan Jati yang baik ada di pulau Jawa.
Referensi
1. Handayani, TLN. 2014. The Soul of Jati.
2. LindungiHutan. (2021). Pohon Jati: Klasifikasi, Ciri-ciri, Jenis dan Manfaat Jati.
3. Plantamor. (n.d.). Tectona grandis L.f. Retrieved from https://plantamor.com/species/profile/tectona/grandis


Klasifikasi Pucuk Merah (Syzygium myrtifolium)

  • Kingdom 
    Plantae 
  • Subkingdom 
    Tracheobionta 
  • Superdivisi 
    Spermatophyta 
  • Divisi 
    Magnoliophyta 
  • Kelas 
    Magnoliopsida 
  • Subkelas 
    Rosidae 
  • Ordo 
    Myrtales 
  • Famili 
    Myrtaceae 
  • Genus 
    Syzygium 
  • Spesies 
    Syzygium myrtifolium Walp.
Morfologi Pucuk Merah (Syzygium myrtifolium)
Batang : Tinggi dari batang pucuk merah bisa mencapai ketinggian 5 m jika tumbuh di tempat yang subur dan terdapat nutrisi yang tinggi. Sementara akar pucuk merah terdiri dari akar tunggang yang merambat dan terus membesar. 
Daun : Daun beberapa di ujung berwarna merah, dengan kata lain daun muda berwarna merah. Namun seiring waktu daunya berubah menjadi hijau. Daun pucuk merah merupakan daun tunggal dengan letak berhadapan. Bentuk daun oval, tepi daun rata, ujung daun meruncing, dan pangkal daun meruncing. Pertulangan daunnya menyirip. Bentuk tangkai bulat dengan warna merah seperti daunnya ketika masih muda (Musawa, 2023). 
Bunga : Bunga yang dimiliki bersifat majemuk dan tersusun dalam malai berkarang terbatas. Saat bunga sudah mekar, tampak kepala putik warna putih dengan tangkai berukuran lebih pendek jika dibanding benang sari dari bunganya. Letak putik tepat berada di tengah, sedangkan tangkai sari berwarna putih berukuran lebih panjang dari putiknya dengan jumlah lebih banyak (Krisnan, 2020).
Buah : Buahnya yang berbentuk bulat hingga elips berwarna ungu tua atau hitam, lebarnya sekitar 9 mm.
Distribusi : India Timur Laut, Myanmar, Thailand, Semenanjung Malaysia, Singapura, Sumatra, Kalimantan, dan Filipina.
Habitat : Hutan Pantai, Hutan Hujan Primer, Hutan Hujan Sekunder, Daerah Aliran Sungai.
Intoleran spesies
Referensi
1. Krisnan, 2020. Mengenal 10 Manfaat Tanaman Pucuk Merah. Rumah.com, https://www.rumah.com/panduan-properti/pucuk-merah-39320.
2. Musawwa AW. 2023. Karakterisasi Morfologi Genus Syzygium Di Kabupaten Nganjuk. In Prosiding SEMDIKJAR (Seminar Nasional Pendidikan dan Pembelajaran).6:522-528.
3. National Parks Board (NParks). (n.d.). Syzygium myrtifolium (Roxb.) Walp. Flora & Fauna Web.

Klasifikasi Mahoni (Swietenia mahogani)

  • Kingdom
    Plantae 
  • Subkingdom 
    Tracheobionta 
  • Superdivisi 
    Spermatophyta 
  • Divisi 
    Magnoliophyta 
  • Kelas 
    Magnoliopsida 
  • Subkelas 
    Rosidae 
  • Ordo 
    Sapindales 
  • Famili 
    Meliaceae 
  • Genus 
    Swietenia 
  • Spesies 
    Swietenia mahagoni (L.) Jacq.
Morfologi Mahoni (Swietenia mahogani)
Batang : batangnya berkayu yang berbentuk bulat dan bergetah serta memiliki bidang batang yang menampilkan kerak yang lepas dan beralir surut semacam sisik. Arah tumbuhnya tegak lurus dan condong ke atas, tipe percabangan monopodial dengan sifat cabang yaitu sirung panjang. Tumbuhan Mahoni merupakan tumbuhan tahunan yang memiliki tinggi 5-25 m, dapat pula mencapai 35-40 m dengan diameter batang mencapai 125 cm. Kulit bagian luar warnanya coklat gelap, beralur seperti sisik dan kulit batangnya berwarna abu-abu, licin saat muda kemudian menjadi coklat tua berkerut dan bersisik sesudah tua. Batang pohon ini memiliki arsitektur sesuai dengan “Model Rauh”, batangnya yang monopodial serta tumbuh dengan tak terbatas dan bertahap (Alfayed et al., 2022).
Daun : Daun yang tidak lengkap dengan bagian terlebar pada pangkal daun yang tidak bertoreh, bangun daunnya yang bulat telur dan memiliki panjang 3- 15 cm. Ujung dan pangkal daun meruncing, pertulangan daun yang menyirip sehingga daunnya termasuk golongan daun majemuk menyirip genap, tepi daun rata, daging daun seperi kertas, warna daun hijau tua dengan permukaan atas yang licin mengkilap dan permukaan bawahnya yang licin. Daun muda mahoni berwarna merah dan kemudian berubah menjadi hijau saat dewasa (Alfayed et al., 2022).
Bunga : bunga majemuk tak terbatas yang berbentuk malai berwarna putih kekuningan serta terletak di bagian ketiak daun (axillar). Bunga Swietenia mahagoni memiliki kaliks, korola, dan pistillum bunga mahoni ini berjumlah 4-5 dengan stamen yang berjumlah 8-10.
Buah : Buah mahoni berbentuk bulat seperti telur, memiliki lekukan berjumlah lima, dan termasuk ke dalam tipe buah kotak yang berwarna coklat. Di dalam buahnya, biji mahoni berwarna coklat kehitaman dan berbentuk pipih dengan ujung yang tebal.
Ditsribusi : tersebar di daerah tropis, seperti Indonesia, India, Malaysia, dan Cina bagian selatan.
Habitat : hutan dataran rendah, hutan primer dan sekunder, hutan dengan tanah yang kering atau terbuka
Referensi
1. Alfayed D, Dharmono & Riefani MK. (2022). Kajian Etnobotani Mahoni (Swietenia mahagoni) di Kawasan Desa Sabuhur Kabupaten Tanah Laut. NECTAR: Jurnal Pendidikan Biologi, 3(1):1–8.
2. Plantamor. (n.d.). Swietenia mahagoni (L.) Jacq. Retrieved from https://plantamor.com/species/profile/swietenia/mahagoni

Klasifikasi Mahoni Daun Lebar (Swietenia macrophylla)
  • Kingdom
    Plantae 
  • Subkingdom
    Tracheobionta
  • Superdivisi
    Spermatophyta
  • Divisi
    Magnoliophyta
  • Kelas
    Magnoliopsida
  • Subkelas
    Rosidae
  • Ordo
    Sapindales
  • Famili
    Meliaceae
  • Genus
    Swietenia
  • Spesies
    Swietenia macrophylla King
Morfologi Mahoni Daun Lebar (Swietenia macrophylla)
Batang : Batang pohon mahoni berbentuk tegakan bulat yang dapat mencapai tinggi 30 meter lebih pada kondisi lingkungan yang optimal. Warna batang mahoni coklat keabu-abuan dengan banyak cabang. Setelah tua kulit batangnya akan berubah menjadi kehitaman dengan alur dangkal seperti sisik yang mudah dikelupas. Di ujung cabang-cabang ini membentuk kanopi yang lebar dan rimbun.
Daun : Daun pohon mahoni berbentuk daun majemuk menyirip dengan helaian daun berbentuk bulat oval (lonjong), ujung dan pangkal daun runcing, dan tulang daun menyirip. Panjang daun berkisar 35-50 cm. Ketika daun berusia muda tanaman mahoni berwarna merah, lalu berubah menjadi hijau seiring peningkatan zat hijau daun (klorofil) untuk proses fotosintesis.
Bunga : Mahoni baru berbunga ketika pohon telah berumur 7 tahun lebih. Bunga mahoni termasuk bunga majemuk yang tersusun dalam karangan yang muncul dari ketiak daun, berwarna putih, dengan panjang berkisar 10-20 cm. Mahkota bunga mahoni berbentuk silindris dan berwarna kuning kecoklatan. Benang sari melekat pada mahkota bunga.
Buah : Buah mahoni berbentuk bulat telur, berlekuk lima dan berwarna coklat. Bagian luar buah mengeras dengan ketebalan 5-7 mm, dibagian tengah mengeras seperti kayu dan berbentuk kolom dengan 5 sudut yang memanjang sampai ke ujung.
Distribusi : Berasal dari Amerika tropis, Swietenia macrophylla diperkenalkan ke Asia, Pasifik, dan Afrika.
Habitat : Hutan dataran rendah dan hutan hujan tropis
Intoleran spesies
Referensi
1. LindungiHutan. (2022). Pohon Mahoni: Ciri-ciri dan Manfaat Buah, Biji, Kayu Mahoni. Retrieved from https://lindungihutan.com/blog/pohon-mahoni/
2. National Parks Board (NParks). (n.d.). Swietenia macrophylla King. Flora & Fauna Web. Retrieved from https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/3/1/3150
3. Plantamor. (n.d.). Swietenia macrophylla King. Retrieved from https://plantamor.com/species/info/swietenia/macrophylla


Klasifikasi Angsana (Pterocarpus indicus)

  • Kingdom
    Plantae 
  • Subkingdom 
    Tracheobionta 
  • Superdivisi 
    Spermatophyta 
  • Divisi 
    Magnoliophyta 
  • Kelas
    Magnoliopsida 
  • Subkelas 
    Rosidae 
  • Ordo Fabales
    Famili 
    Fabaceae 
  • Genus 
    Pterocarpus 
  • Spesies 
    Pterocarpus indicus Willd.
Morfologi Angsana (Pterocarpus indicus)
Batang : berbentuk silindris kulit kayu abu-abu kecokelatan, bersisik halus, bergetah bening kemerahan.
Daun : majemuk, 5-13 anak daun, berseling pada poros daun, bulat telur hingga agak jorong, pangkal bulat dan ujung meruncing, hijau terang, gundul, dan tipis.

Bunga : Bunga berkelamin ganda, berwarna kuning dan berbau harum semerbak, berbilangan-5. Kelopak serupa lonceng, berdiameter 6mm, dua taju teratas lebih besar dan kadang-kadang menyatu. Mahkota lepas-lepas, berkuku, bendera bundar telur terbalik atau seperti sudip. Benang sari 10 helai, yang teratas lepas atau bersatu.
Buah : Buah polong bundar pipih, dikelilingi sayap tipis seperti kertas, lk. 6 cm diameternya, tidak memecah ketika masak. Biji 1-4 butir.Polong akan masak dalam waktu 4-6 bulan, berwarna kecoklatan ketika mengering.
Distribusi : Asia Tenggara dan Pasifik.
Habitat : Hutan dataran rendah, hutan sekunder dan hutan rawa musiman
Referensi :
1. National Parks Board (NParks). (n.d.). Pterocarpus indicus Willd. Flora & Fauna Web. Retrieved from https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/3/0/3093
2. Socfindo Conservation. (n.d.). Pterocarpus indicus Willd. Retrieved from https://www.socfindoconservation.co.id/plant/251
3. Taman Digital Fakultas Pertanian Universitas Andalas. (n.d.). Angsana (Pterocarpus indicus Willd). Retrieved from https://tamandigital.faperta.unand.ac.id/index.php/deskripsi/tanaman-kayu-hutan/angsana-pterocarpus-indicus-willd

Mungkin sebagian orang pernah atau bahkan sering melihat pohon ini sebagai tanaman peneduh atau hiasan. Yuk, cek klasifikasi serta morfologi dari Monoon longifolum ini!

Klasifikasi Monoon longifolum

  • Kingdom
    Plantae 
  • Subkingdom
    Tracheobionta 
  • Superdivisi
    Spermatophyta 
  • Divisi
    Magnoliophyta 
  • Kelas
    Magnoliopsida 
  • Subkelas
    Magnoliidae 
  • Ordo
    Magnoliales 
  • Famili
    Annonaceae 
  • Genus
    Monoon 
  • Spesies
    Monoon longifolium (Sonn.) B.Xue & R.M.K.Saunders
Morfologi Monoon longifolium
Pohon berukuran kecil hingga sedang, hijau abadi dengan tajuk yang sempit dan berbentuk kolom serta cabang-cabang yang menjuntai. Pohon ini biasanya tumbuh hingga 8 - 12 m saat dibudidayakan, tetapi dapat mencapai 20 m di alam liar.
Batang : Batangnya lurus, kulit kayunya halus, berwarna coklat keabu-abuan.
Daun :  Daunnya halus dan mengilap, berbentuk lanset dengan tepi daun bergelombang (panjang 11 - 31 cm, lebar 2,5 - 8 cm). Ujung daunnya panjang dan tipis, sedangkan pangkal daunnya bisa berbentuk baji atau bundar. Dedaunan muda berwarna kekuningan hingga cokelat muda, sedangkan dedaunan dewasa berwarna hijau tua. Susunan daunnya berselang-seling dengan cabang-cabang yang memiliki satu daun per buku.
Bunga : Bunga berwarna hijau pucat hingga kuning kehijauan berbentuk bintang dengan 6 kelopak tipis dan linier.
Buah : Buah yang halus, berbentuk bulat telur hingga elips (panjang 2 - 2,5 cm, lebar 1,5 cm) memiliki daging buah yang lembut dan tumbuh dalam kelompok yang terdiri dari 20 buah. Buah yang belum matang berwarna hijau kekuningan akan matang menjadi hitam keunguan.
Distribusi : Asli dari India dan Sri Lanka. Tanaman ini diperkenalkan di taman-taman di banyak negara tropis di seluruh dunia. Misalnya, tanaman ini banyak digunakan di beberapa bagian Jakarta di Indonesia dan di pulau-pulau Karibia seperti Trinidad dan Tobago.
Habitat : Hutan dataran rendah dan di tempat yang terbuka.
Referensi :
1. National Parks Board (NParks). (n.d.). Monoon longifolium (Sonn.) B. Xue & R.M.K. Saunders. Flora & Fauna Web. Retrieved from https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/3/0/3079

Identik dengan pohon angker, nyatanya tidak seperti demikian. Di Indonesia, beringin memiliki beberapa nama, antara lain ada yang menyebutnya waringin, caringin [Sunda], atau ringin [Jawa]. Nama ilmiah Ficus benjamina diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus pada tahun 1767.
Klasifikasi Ficus benjamina
  • Kingdom
    Plantae
  • Subkingdom
    Tracheobionta
  • Superdivisi
    Spermatophyta
  • Divisi
    Magnoliophyta
  • Kelas
    Magnoliopsida
  • Subkelas
    Hamamelididae
  • Ordo
    Urticales
  • Famili
    Moraceae
  • Genus
    Ficus
  • Spesies
    Ficus benjamina L.

Morfologi Ficus benjamina
Batang : Batangnya agak pucat dan halus dan dapat tumbuh hingga lingkar 3m pada pohon dewasa. Tanaman ini dapat tumbuh hingga mencapai sekitar 20-25 meter. Batang tegak, bulat, percabangan simpodial, permukaan kasar.

Daun : Daunnya berbentuk oval, dengan ujung daun bergerigi, dan tepi daun sedikit bergelombang. Permukaan abaksialnya mengilap dan berwarna hijau muda, sedangkan permukaan adaksialnya lebih kusam. Panjangnya sekitar 4,5 hingga 6 cm, dan lebarnya sekitar 3,5 cm. Seperti spesies Ficus lainnya, dedaunan dan cabangnya mengeluarkan getah putih seperti lateks saat terluka.
Bunga : Bunga dari pohon akar gantung ini merupakan bunga tunggal yang tumbuh di ketiak daun (cauliflora). Bentuk tangkainya silindris dengan kelopak seperti corong berwarna hijau. Bentuk mahkota bulat dan berwarna kuning kehijauan, benang sari dan putiknya pun berwarna kekuningan.
Buah : Buah ara spesies ini berukuran kecil (berdiameter sekitar 3 cm), berbentuk bulat, berwarna merah atau jingga kemerahan dan biasanya tumbuh berpasangan di ketiak daun.
Distribusi : Tiongkok Selatan, Taiwan, Filipina, Malaysia, Indonesia, Papua Nugini, Australia (Wilayah Utara, Queensland), Pasifik Barat Daya (Kepulauan Solomon)
Habitat : Dataran rendah, hutan primer dan sekunder.
Referensi
1. National Parks Board, n.d. Ficus benjamina. [online] Flora Fauna Web. Available at: https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/2/9/2902
2. Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta, n.d. Beringin Biasa (Ficus benjamina). [online] Available at: https://pertamananpemakaman.jakarta.go.id/v140/t602/1f173c4d1eb6f6a16887f41fee2504be
3. Royal Botanic Gardens, Kew, n.d. Ficus benjamina L. [online] Plants of the World Online. Available at: https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:852486-1

jenis pohon ini ada di sekitar kampus dengan penampakan batang yang mudah dikenali.

Klasifikasi Tembesu (Fagraeaa fragrans)

  • Kingdom
    Plantae

  • Divisi
    Tracheophyta

  • Kelas
    Magnoliopsida

  • Ordo
    Gentianales

  • Famili
    Loganiaceae 

  • Genus
    Fagraea

  • Spesies
    Fagraea fragrans Roxb.

Morfologi Tembesu (Fagraea fragrans)
Batang : Batang pohonnya memiliki ciri fisik bergelombang lemah tanpa banir. Kulit batangnya tebal dan cukup keras, berwarna coklat sampai hitam. memiliki alur atau retakan yang dalam. Tinggi tanaman ini dapat mencapai 40 m.
Daun : Daunnya  bersilang, menyebar, dengan tangkai daun pendek. Bentuknya lanset lebar, meruncing, ujungnya tumpul, utuh, dan halus di kedua sisi.
Bunga : Bunga tunggal berwarna putih dan mempunyai aroma yang harum, Buahnya berbentuk bulat dengan diameter sekitar 0,5 – 1 cm. termasuk bunga lengkap. Tahap perkembangan bunga tembesu hingga menjadi buah masak memerlukan waktu 4 sampai 5 bulan.
Buah : buah semu, yang berarti berasal dari seluruh bunga, bukan hanya ovarium. Buah tembesu berbentuk bulat hingga lonjong, dengan kulit buah yang tebal dan keras. pematangan buah terjadi beberapa tahapan perubahan warna buah mulai dari buah berwarna hijau (buah muda), buah kuning, buah orange dan buah merah (buah tua) (Rustam dan Pramono, 2018).
Distribusi : Tersebar di beberapa wilayah seperti di India, Myanmar, Singapura, Filipina dan Indonesia.
Habitat : Hutan dataran rendah, primer dan sekunder serta lahan gambut.
Catatan : termasuk jenis intoleran
Referensi :
1. GlobinMed, n.d. Fagraea fragrans. [online] Available at: https://globinmed.com/safety/fagraea-fragrans/
2. Rustam E dan Pramono AA. 2018. Morfologi dan perkembangan bunga-buah tembesu (Fragraea fragrans). Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia, 4(1):13–19.
3. UPT Perbenihan Tanaman Hutan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, n.d. Tembesu (Fagraea fragrans). [online] Available at: https://uptpth.dishut.jatimprov.go.id/tembesu-fragea-fragans/

 

buah bintaro menggiurkan, tapi jangan dimakan! bintaro sering dijumpai hampir di areal Universitas Jambi, termasuk di kampus prodi Kehutanan. Pohon ini mudah diingat dikarenakan mempunyai ciri yang mudah dihapal, termasuk bentuk buah dan juga daun dari pohon ini.

Klasifikasi Bintaro (Cerbera manghas)

  • Kingdom
    Plantae
  • Subkingdom
    Tracheobionta
  • Superdivisi
    Spermatophyta
  • Divisi
    Magnoliophyta
  • Kelas
    Magnoliopsida
  • Subkelas
    Asteridae
  • Ordo
    Gentianales
  • Famili
    Apocynaceae
  • Genus
    Cerbera
  • Spesies
    Cerbera manghas L.
Morfologi bintaro (Cerbera manghas)
Batang : Tumbuhan ini memiliki tinggi mencapai 10-20 metter. Batang bintaro tegak, berkayu, berbentuk bulat, dan berbintik-bintik hitam. Kulit batang binnatro tebal dan berkerak.

Daun : Daun bintaro merupakan daun tunggal dan berbentuk lonjong, tepi daun rata, ujung dan pangkalnya meruncing, pertulangan daun menyirip, permukaan licin, dengan ukuran panjang 15— 20 cm, lebar 3-5 cm, dan berwarna hijau. Daun bintaro biasanya berjejalan/rapat di ujung cabang. 
Bunga : berwarna putih, berbau harum, dan terletk di ujung batang. Bunga tanaman ini merupakan bunga majemuk berkelamin dua dengan panjang tangkai putik 2-2,5 cm. Kepala sari bagian bunga berwarna cokelat, sedangkan kepala putiknya hijau keputihan.
Buah : berbentuk bulat dan berwarna hijau pucat dan ketika tua akan berwarna merah. Buah bintaro merupakan buah drupa (buah biji) yang terdiri dari tiga lapisan yaitu epikarp atau eksokarp (kulit bagian terluar buah), mesokarp (lapisan tengah berupa serat seperti sabut kelapa), dan endokarp (biji yang dilapisi kulit biji atau testa) (Chang et al., 2010). Dan tidak dapat dimakan walaupun ketika masak buah ini sangat terlihat menggiurkan.

Distribusi : Asia timur dan seluruh Malesia (termasuk Singapura) hingga kepulauan Pasifik dan Australia utara.
Habitat : Dataran rendah, pesisir laut, dan hutan bakau.
Referensi :
1. Chang LC, Joell JG, Krishna PL, Lumonadio L, Norman RF, John MP, Douglas AK. 2000. Activity-guided isolation of constituents of cerbera manghaswith antiproliferative and antiestrogenic activities. Bioor. Medicin. Chem. Lett. 10:2431-2434.
2. National Parks Board, n.d. Cerbera manghas. [online] Flora Fauna Web. Available at: https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/2/7/2799

Kaliandra dapat ditemukan di dekat kampus dan sering dilihat jika menuju ke arah kantin kehutanan. Jenis ini dikenal sebagai tanaman legum yang mana memiliki kemampuan untuk memperbaiki kesuburan tanah.
Klasifikasi Kaliandra (Calliandra calothyrsus)
  • Kingdom
    Plantae
  • Subkingdom 
    Tracheobionta
  • Superdivisi 
    Spermatophyta
  • Divisi 
    Magnoliophyta
  • Kelas 
    Magnoliopsida
  • Subkelas 
    Rosidae
  • Ordo 
    Fabales
  • Famili 
    Fabaceae
  • Genus 
    Calliandra
  • Spesies 
    Calliandra callothyrus
Morfologi Kaliandra (Calliandra calothyrsus)

Batang : tinggi sampai dengan 5-6 m dan dapat mencapai 12 m. diameter maksimum 20 cm, bercabang, kulit batangnya berwarna merah atau abu-abu yang tertutup oleh lentisel kecil, pucat berbentuk oval. Ke arah pucuk batang cenderung bergerigi, dan pada pohon yang batangnya cokelat-kemerahan, ujung batangnya bisa berulas merah. Ke arah pucuk batang cenderung (CIFOR, 2003).
Daun : daun-daun yang lunak yang terbagi menjadi daun-daun kecil. Panjang daun utama dapat mencapai 20 cm dan lebarnya mencapai 15 cm dan pada malam hari daun-daun ini melipat ke arah batang. Tangkai daun bergerigi dengan semacam tulang di bagian permukaan atasnya, tetapi tidak memiliki kelenjar-kelenjar pada tulang sekundernya (CIFOR, 2001).
Bunga : berbentuk dalam gerombol atau kepala berbentuk setengah bulatan. Pada beberapa jenis, gerombol tersebut tersusun dalam kelompok yang berselingan memutar ke arah ujung cabang yang sedang berbunga. Tipe susunan bunga yang terakhir ini disebut tandan. Semua bunganya hampir selalu berbentuk mangkuk dengan lima kelopak yang tersusun teratur. Banyak sekali benang panjang berwarna putih atau merah keluar dari atas mangkuk bunga. Benang-benang ini selalu tersambung ke dalam tabung di pangkal bunga, yang panjangnya sedikitnya dua kali dari panjang bunga (CIFOR, 2001).
Buah : berbentuk lurus (atau agak melengkung), dan polongnya memipih dengan pinggiran yang menenebal. Polong ini merekah mendadak dari bagian ujung untuk mengeluarkan biji. Mekanisme pemencaran biji ini hanya terjadi pada beberapa marga saja, dan mekanismenya sangat berkaitan dengan struktur bunga yang sangat berbeda.
Distribusi : India, Indonesia, Afrika, Amerika Selatan, Hindia Barat, dan di beberapa pulau di Samudra Pasifik.
Habitat : Hutan dataran rendah, tempat terbuka
Catatan : termasuk jenis intoleran.
Referensi
1. Stewart, Janet L, Mulawarman, James M, Roshetko dan Mark H Powell. 2001. Produksi dan Pemanfaatan Kaliandra (Calliandra calothyrsus): Pedoman Lapang. Bogor, Indonesia: International Centre for Research in Agroforestry (ICRAF) dan Winrock International.​
2. Socfindo Conservation, n.d. Calliandra houstoniana var. calothyrsus. [online] Available at: https://www.socfindoconservation.co.id/plant/809
3. Plantamor, n.d. Calliandra callothyrus. [online] Available at: https://plantamor.com/species/profile/calliandra/callothyrus

Aporosa octandra juga sebagai salah satu jenis pohon yang ada di sekitar kampus kehutanan. Jenis ini berasal dari famili Phyllantaceae.

Klasifikasi Aporosa octandra

  • Kingdom
    Plantae
  • Sub-kingdom
    Tracheobionta
  • Divisi
    Streptophyta
  • Kelas
    Equiseptosida
  • Sub-kelas
    Magnoliidae
  • Ordo
    Malpighiales
  • Famili
    Phyllantaceae
  • Genus
    Aporosa
  • Spesies
    Aporosa octandra
Morfologi Aporosa octandra
Pohon kecil, dengan tinggi 8 m. dbh 12 cm. Kulit luar coklat tua dengan retakan vertikal dalam. kulit batang  dalam berwarna coklat kemerahan.
Daun : Pucuk muda tertutup rapat dengan rambut berwarna coklat-oren.
Bunga    : Kuning kehijauan
Buah : Buah berbentuk oval hingga bulat, yang masih muda sedikit bertangkai dan ada sedikit tonjolan, ukuran 9–13 x 6–10 mm, mengering menjadi coklat gelap hingga hitam.
Distribusi : Pakistan,  India, and Nepal, China Selatan, Asia Selaran, Malesia and Sulawesi.
Habitat : Dataran rendah, hutan primer, hutan sekunder, semak belukar dan areal yang sebagian terbuka.
Referensi
1. World Flora Online. (n.d.). Aporosa octandra.
2. Kantasrila, R. (2015). Aporosa octandra var. octandra (Buch.-Ham. ex D.Don) Vickery. https://ethnobotanyofkaren.myspecies.info/taxonomy/term/13/descriptions

Pulai (Alstonia scholaris) adalah salah satu jenis pohon yang berada di sekitaran kampus Program Studi Kehutanan. Pulai termasuk ke dalam famili Apocynaceae. Alstonia scholaris disebut juga sebagai blackboard tree (pohon papan tulis), devil tree (pohon hantu) atau milkwood pine (pohon yang menghasilkan getah seperti susu) (Wang et al., 2019).

Klasifikasi Alstonia scholaris
  • Kingdom
    Plantae
  • Sub-Kingdom
    Tracheobionta
  • Super-divisi
    Spermatophyta
  • Divisi
    Mangnoliopsida
  • Sub-kelas
    Asteridae
  • Ordo
    Gentiales
  • Famili 
    Apocynaceae
  • Genus
    Alstonia
  • Spesies
    Alstonia scholaris
Morfologi Pulai (Alstonia scholaris)
Tumbuhan ini berupa pohon dengan tinggi 10 sampai 50 m, batang lurus dengan diameter hingga 60 cm. Daun pulai tersusun secara melingkar 4 sampai 9 helai, pertulangan menyirip dan berwarna hijau. Kulit batang pulai bersifat rapuh, mempunyai rasa yang sangat pahit, permukaan berbintil-bintil lentisel dengan tebal 6 sampai 8 mm, berwarna putih pada bagian dalam, dan mengeluarkan getah berwarna putih (Mayor, 2022). Pohon pulai dari penampakannya berukuran besar dan tinggi, batang lurus dan bulat. Percabangannya bertingkat, bentuk tajuknya seperti pagoda.
Batang : Kulit batang pulai pada bagian luar berwarna abu-abu hingga kehitaman, sedangkan pada bagian dalamnya berwarna putih atau kuning muda. Kulit batang mengandung getah yang berwarna putih. Tebal kulit sekitar 8–11 mm dengan tekstur keras.


Daun : Daun pulai berbentuk memanjang, panjang daun sekitar 12– 25 cm dan lebar 3–8 cm. Helai daun pada bagian atas berwarna hijau mengkilap, sedangkan pada bagian bawahnya hijau muda buram tidak berbulu.
Bunga : Bunganya berwarna putih, kuning, atau krem dan memiliki aroma yang harum. Lobus bunga berbentuk bulat telur lebar atau hampir bundar (panjang 3–5 mm dan lebar 2,5–4,5 mm) serta saling tumpang tindih ke arah kiri. Bunga ini beraroma kuat dan berpotensi menyebabkan sensitivitas pada beberapa individu selama periode berbunga yang intens (Nparks).
Distribusi : India, Nepal, Bangladesh, Sri Lanka, Bhutan, Pakistan, Myanmar, China, Thailand, Cambodia, Laos, Vietnam (Nparks).
Habitat : Hutan dataran rendah, hutan primer dan sekunder, dan di area terbuka.
Catatan : jenis intoleran.
Referensi :
1. Mayor MKJ. 2022. Pemanfaatan pohon pulai (Alstonia scholaris) oleh masyarakat Kampung Puper Distrik Waigeo Timur Kabupaten Raja Ampat. Jurnal J-Mace, 2(1):68-81.
2. National Parks Board (n.d.) Alstonia scholaris. Flora Fauna Web. Available at: https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/2/7/2705
3. Wang CM, Chen HT, Wu ZY, Jhan YL, Shyu CL, & Chou CC. 2016. Antibacterial and synergistic activity of pentacyclic triterpenoids isolated from Alstonia scholaris. Molecules, 21(139): 1-14.